Kunjungan Belajar ke Lokasi Biogas di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang

//Kunjungan Belajar ke Lokasi Biogas di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang

Kunjungan Belajar ke Lokasi Biogas di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang

Penerapan energi terbarukan dapat ditemui di beberapa kecamatan di Pinrang. Ada yang memanfaatkan kotoran ternak dengan mengolah limbah untuk menghasilkan gas yang dipakai sebagai pengganti LPG untuk keperluan sehari-hari. Seperti yang ada di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua.

Pada hari Sabtu, 16 November 2019, siswa-siswi SMA Negeri 11 Pinrang kelas XII MIPA 3 mengikuti kegiatan studi lapangan di Kelurahan Tatae, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang didampingi 2 guru pembimbing, yaitu Bapak Mohammad Nur Idris, S.Si., M.Pd. dan Bapak Handia Asyik, S.Pd., M.Pd. Tujuan kegiatan kunjungan belajar ini adalah untuk menambah wawasan siswa mengenai pengolahan dan pemanfaatan energi terbarukan yaitu Biogas, memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara langsung dengan sumber ajar, dan juga memberikan pengalaman kepada siswa sekaligus sebagai rekreasi sebelum menghadapi Penilaian Akhir Semester (PAS) semester ganjil.

Kami dijadwalkan berangkat sebelum pukul 09:00 WITA. Lima belas menit sebelum keberangkatan, seluruh siswa sudah berkumpul di taman samping Musalla Ar-Ridho SMAN 11 Pinrang untuk diabsen oleh guru pembimbing. Tetapi, kami baru berangkat pukul sembilan lewat beberapa menit dikarenakan ada sedikit kendala saat mencari kunci mobil sekolah. Lama perjalanan yang kami tempuh dari sekolah sampai di lokasi pengamatan kurang lebih 30 menit. Jadi kami tiba sekitar pukul 09:30 WITA.

Rupanya kunjungan kami telah dinanti oleh pemilik lokasi Biogas, Pak Subandi. Begitu sampai di lokasi, Pak Subandi memandu kami menuju kandang sapi. Di situ, kami mendapatkan penjelasan tentang jenis-jenis sapi, kebutuhan-kebutuhan sapi, alasan dan latar belakang pengolahan Biogas, juga kisah menarik Pak Subandi yang sudah diundang dua kali ke Malang untuk menjadi narasumber karena usaha dan inovasinya memanfaatkan Biogas tersebut.

Pengetahuan yang juga kami peroleh yaitu rupanya 1 ekor sapi mampu mencukupi kebutuhan memasak dua orang.

Berbeda dengan hewan ternak biasanya dilepas dan dibiarkan berkeliaran memakan rumput di lapangan, sapi di sini terus dikandangkan dan dibawakan makanan.

“Tujuannya agar kotoran sapi tidak mencemari lingkungan dan bisa dimanfaatkan dengan mengumpulkan dan mengolahnya menjadi biogas,” kata Pak Subandi.

Kami lalu beralih ke tempat digester/reaktor penampungan biogas. Kami, juga guru pembimbing antusias mendengar pemaparan Pak Subandi mengenai proses dan cara kerja reaktor tersebut dalam menyalurkan biogas ke rumah-rumah penduduk.

Bagian utama dari instalasi Biogas adalah digester, tangki kedap udara yang menjadi tempat memproses kotoran sapi menjadi gas. Perhitungan kapasitas alat didasarkan pada jumlah sapi dan feses yang dihasilkan dengan perhitungan sebagai berikut:

  1. Tiap ekor sapi menghasilkan 2 ember kotoran per hari
  2. Kotoran perlu diencerkan dengan 3 ember air
  3. Volume ember = 10 liter
  4. Jumlah sapi yang diusahakan misalnya 4 ekor sapi
  5. Lamanya proses pembentukan gas (fermentasi) sekitar 8-10 Untuk hasil yang maksimal menghasilkan api berwarna biru proses fermentasi berlangsung selama 12 hari.

Berdasarkan perhitungan di atas, maka setiap hari yang dimasukkan ke dalam digester adalah 2+3 ember = 5 ember atau 50 liter campuran feses dan air untuk tiap ekor sapi. Bila lamanya pem­bentukan gas 10 hari, maka tiap ekor sapi membutuhkan ruang di­ges­ter 10 x 50 liter = 500 liter.

Digester milik Pak Subandi ini ditanam dalam galian tanah setinggi 2,5 m dengan volume sebesar 13 m3. Dengan volume sebesar ini diharapkan mampu menampung lebih banyak bahan baku pembuatan Biogas, sehingga Biogas yang dihasilkan semakin banyak untuk kebutuhan bahan bakar secara kontinue.

Di dalam digester tersebut kotoran dicerna dan difermentasi oleh bakteri yang menghasilkan gas methan serta gas-gas lain. Gas yang timbul dari proses ini ditampung di dalam digester. Penumpuk­an produksi gas akan menimbulkan tekanan sehingga dapat disalur­kan ke rumah dengan pipa.

Penyaluran gas ke rumah-rumah melalui pipa dilakukan secara otomatis oleh kolam pengatur tekanan gas dalam digester yang disambungkan dengan pipa outlet. Dimana, cara kerjanya sesuai Hukum Gas Ideal dengan rumus:

Gas yang dihasilkan tersebut dapat dipa­kai untuk memasak dengan mengunakan kompor gas atau untuk pe­nerangan dengan menggunakan lampu petromaks sesuai dengan ba­han bakar gas tadi. Gas yang dihasilkan ini sangat baik untuk pemba­karan karena mampu menghasilkan panas yang cukup tinggi, apinya berwarna biru, tidak berbau dan tidak berasap.

Pembuatan Biogas dari kotoran sapi tidak menghilangkan manfaat lain sebagai pupuk kandang. Sebaliknya pupuk yang dihasil­kan justru manaikkan kandungan bahan organik sehingga pupuk kan­dang yang dihasilkan lebih baik. Pupuk tersebut terbentuk dari sisa proses fermentasi feses tadi yang memang harus dikeluarkan secara berkala agar tidak terjadi endapan padat yang dapat mengganggu proses pembentukan Biogas.

“Keuntungan menggunakan biogas sangat banyak. Relatif aman karena gas yang digunakan bertekanan kecil, sehingga resiko meledak sangat kecil. Saat digunakan memasak limbah menjadi tidak berbau…” tutur Pak Subandi

Api baru akan muncul jika saat kompor dinyalakan langsung bersentuhan dengan api yang menyala, tidak bisa jika hanya dengan bara seperti puntung rokok dan semacamnya. Sehingga, tidak berbahaya karena tidak beresiko untuk meledak.

“…Pemanfaatan kotoran sapi juga mencegah pencemaran lingkungan. Selain itu, limbah sisa yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” lanjut Pak Subandi.

Dengan demikian, memanfaatkan kotoran sapi menjadi sesuatu yang lebih bernilai seperti Biogas tersebut dapat mengurangi volume timbunan kotoran sapi yang berpotensi mencemari udara, tanah dan air.

Menjelang pukul 12 siang, kami beranjak pulang. Di lokasi edukasi ini, siswa mendapatkan banyak pengetahuan sekaligus pengalaman. Mendengar penjelasan mengenai pemanfaatan limbah sapi sebagai Biogas, beberapa dari kami tertarik untuk mengajak keluarga, teman, ataupun tetangga untuk ikut mengaplikasikan pengolahan Biogas tersebut. Kunjungan ini benar-benar memberi manfaat. Lebih baik lagi apabila dilaksanakan secara rutin dari tahun ke tahun, juga di beberapa lokasi lain dengan tujuan agar wawasan siswa lebih luas dan mendalam.
(Nurfadillah Ham)

By |2019-11-29T03:24:15+00:00November 29th, 2019|Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment